MEDAN — Produk Wine Mangga asal Kabupaten Samosir menjadi salah satu daya tarik stan Pemkab Samosir di Pekan Raya Sumatera Utara (PRSU) ke-50 yang berlangsung di Medan. Minuman fermentasi itu diproduksi di Kampung Silimalombu, sekitar 12 Kilometer dari Tomok, Samosir, dan kabarnya sudah dikenal hingga ke Jerman.
Lambok Sigalingging, perwakilan Pemkab Samosir di lokasi, mengatakan bahwa produk tersebut merupakan usaha kecil-kecilan milik Ratna Gultom, warga asli Samosir. Ratna menikah dengan Thomas, pria asal Jerman, dan sejak itu mereka mulai mengolah hasil alam di sekitar rumah.
“Wine Mangga ini sudah sampai ke negara Jerman, tapi diproduksi di kampung Silimalombu,” kata Lambok saat ditemui di stan Pemkab Samosir, Rabu (8/7/2026) malam, didampingi Srik Hutabarat dan Yunani Simarmata.
Usaha yang sudah berjalan sejak 2014 atau 12 tahun lalu ini memanfaatkan buah mangga yang tidak layak jual. Ratna dan suaminya mengolahnya menjadi berbagai produk bernilai jual, termasuk hand sanitizer.
“Sebenarnya turunan dari mangga, mereka menggunakan hasil alam, apa saja yang tumbuh di sekeliling rumahnya, ada mangga, ada kemiri, ada kelapa, ada sirsa,” jelas Lambok.
Srik Hutabarat menambahkan, proses pembuatan Wine Mangga melalui fermentasi dengan campuran ragi selama tiga bulan sebelum akhirnya dipanen. Setelah disaring, sedimen yang tersisa kemudian didestilasi menjadi hand sanitizer.
“Ada yang 80 persen, ada juga yang di bawahnya itu, dibrandy. Ada yang lain seperti minyak kemiri. Sedimennya minyak kemiri itu juga bisa digunakan jadi lulur, bisa juga untuk bersauna,” ujar Srik.
Produk Wine Mangga disebut memiliki dua varian rasa: manis dan sedikit pahit. Menurut Srik, rasa tersebut sudah diakui secara global setelah suami Ratna, Thomas, membawa produk itu ke Jerman.
“Mereka banyak mengalami kegagalan saat memulai usaha tersebut. Lama-kelamaan, mereka mendapatkan rumus yang tepat pada setiap produk mereka,” tambahnya.
Srik yang pernah mengunjungi lokasi produksi di Silimalombu menggambarkan suasana yang sejuk dan asri. Lokasi tersebut bisa diakses melalui jalur danau menggunakan kapal maupun jalur darat.
“Jika kita langsung ke lokasi produksi di Silimalombu daerah Tomok, suasana lebih sejuk dan asri. Bahkan di sana kita diberi pilihan rasa yang beraneka, kita dimanjakan dengan suasana yang penuh dengan kekeluargaan,” jelasnya.
Bagi warga Medan yang penasaran, Srik mengajak untuk datang langsung ke stan Pemkab Samosir di PRSU. “Ada juga pilihan harga yang terjangkau dengan rasa yang sudah mendunia,” pungkasnya.