MEDAN — Gubernur Sumatera Utara Bobby Nasution memberikan arahan tegas kepada jajaran pengelola Toba Caldera Unesco Global Geopark. Status green card yang baru saja dipertahankan dalam sidang di Chile, September lalu, jangan hanya menjadi plakat di dinding.
"Kunci utamanya adalah bagaimana menjadikan label green card yang hari ini sudah kita capai lewat kerja keras bersama benar-benar menghasilkan satu nilai tambah yang baik," kata Bobby di Aula Tengku Rizal Nurdin, Rumah Dinas Gubernur Sumut, Medan, Selasa.
Bobby menyebut dua hal yang harus menjadi patokan. Pertama, angka kunjungan wisatawan ke kawasan Danau Toba wajib naik secara signifikan. Kedua, masyarakat yang tinggal di lingkar kaldera—tersebar di tujuh kabupaten—harus menerima imbas ekonomi secara langsung.
"Pertama, untuk pariwisata kita tentu kunjungan meningkat. Kedua, masyarakat harus merasakan manfaat ekonominya secara langsung," ujarnya.
Gubernur juga mengingatkan pentingnya keseimbangan antara pengembangan pariwisata dan kelestarian lingkungan di destinasi super prioritas tersebut. "Rumah kita ini menjadi salah satu jawaban masa depan pariwisata yang menjaga keseimbangan alam," kata Bobby.
Geopark Kaldera Toba menerima status green card keanggotaannya dari UNESCO Global Geopark pada sidang Komite Eksekutif ke-11 Konferensi Global Geopark Network di Kutralkura, La Araucania, Chile, 6 September 2025. Status ini bukan pengakuan baru, melainkan hasil revalidasi—artinya UNESCO menilai pengelolaan geopark tetap layak setelah evaluasi berkala.
General Manager Toba Caldera Unesco Global Geopark Azizul Kholis melaporkan bahwa sertifikat kelulusan sudah diterbitkan. Proses administrasinya sempat tertunda akibat situasi geopolitik global dan pembatasan penerbangan ke Prancis, namun dokumen kini sah secara hukum.
Azizul memaparkan sejumlah langkah lanjutan. Geotourism Festival and International Conference (Geofest) ke-7 akan digelar, dan rute perjalanan wisata baru (Geo-Trail) mulai diterapkan per 1 Juli 2026. Pihaknya juga menjajaki pengembangan perjalanan wisata internasional terpadu yang menghubungkan Danau Toba langsung dengan Phuket, Thailand.
Di sisi konservasi, hampir 2.000 pohon telah ditanam di kawasan kaldera lewat program pendanaan pemberdayaan masyarakat. Rencana lainnya adalah peresmian pusat studi riset geopark pertama di tingkat Asia, yang didukung jejaring pakar global serta Badan Riset dan Inovasi.
Catatan Gubernur Bobby soal dampak ekonomi langsung bukan tanpa alasan. Kawasan Danau Toba selama ini kerap menghadapi tantangan klasik: kunjungan naik, tapi manfaat ekonomi belum merata ke desa-desa di lingkar kaldera. Tujuh kabupaten—dari Samosir, Toba, hingga Simalungun—memiliki tingkat kesiapan infrastruktur dan sumber daya manusia yang berbeda.
Pertanyaan besarnya sekarang: apakah peningkatan kunjungan wisatawan benar-benar akan mengalir ke UMKM lokal, penginapan warga, dan sektor jasa tradisional? Atau justru dinikmati oleh pemodal besar dari luar daerah? Jawabannya akan menentukan apakah status green card ini benar-benar menjadi "kartu hijau" ekonomi bagi masyarakat Sumatera Utara.