MEDAN — Pembukaan Sumut Halal Fest di Medan menjadi momentum bagi pemerintah daerah untuk menggeser paradigma sertifikasi halal. Kepala BPJPH Ahmad Haikal Hasan menegaskan, akselerasi halal tidak boleh berhenti pada kewajiban administratif, melainkan harus menjadi mesin penggerak usaha dan industri lokal.
“Halal itu untuk semua. Halal bukan hanya untuk umat Islam. Bagi masyarakat luas, terlepas dari latar belakang agamanya, halal merupakan potensi ekonomi yang sangat besar,” ujar Ahmad Haikal yang akrab disapa Babe Haikal di hadapan para bupati dan wali kota se-Sumatera Utara.
Babe Haikal menjelaskan, makna halal telah berevolusi jauh melampaui isu keagamaan. Dalam ekonomi modern, label halal berkaitan erat dengan kualitas, transparansi, ketertelusuran produk, hingga kepercayaan konsumen.
“Halal bukan lagi sekadar urusan agama. Halal is modern civilization. Halal adalah transparansi, traceability, simbol kesehatan, simbol kualitas, dan memiliki nilai ekonomi yang sangat besar,” tegasnya.
Ia memaparkan, rantai nilai halal nasional berkaitan dengan sekitar 27 persen Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia, setara Rp 6.400 triliun. Angka ini menjadi dasar pertanyaan besarnya porsi yang mampu diambil daerah.
“Jangan hanya bertanya berapa banyak yang sudah bersertifikat halal. Kita juga harus bertanya: berapa banyak usaha yang tumbuh, berapa banyak tenaga kerja yang terserap, berapa besar perdagangan yang bergerak,” jelasnya.
Menurut Babe Haikal, Sumatera Utara memiliki modal besar dari sektor UMKM, perdagangan, industri, hingga pariwisata. Ia meminta potensi tersebut dipetakan agar setiap daerah mengambil peran sesuai keunggulannya masing-masing.
“Sumatera Utara jangan hanya menjadi pasar. Kita ingin Sumatera Utara menjadi bagian dari kekuatan produsen halal Indonesia. Produk-produk unggulan daerah harus kita dorong agar naik kelas dan mampu menembus pasar nasional maupun internasional,” tuturnya.
Gubernur Sumatera Utara Muhammad Bobby Afif Nasution menyampaikan, industri halal memiliki potensi ekonomi yang bisa dimanfaatkan seluruh lapisan masyarakat, bukan hanya umat Muslim. Ia menilai keberagaman karakteristik warga Sumut justru menjadi kekuatan.
“Mari kita lihat potensi besarnya. Bagi umat Muslim, halal merupakan kewajiban, tetapi bagi masyarakat lainnya, industri halal juga merupakan potensi ekonomi yang dapat kita kembangkan bersama,” ujar Bobby.
Ia turut mengapresiasi Bank Indonesia Provinsi Sumatera Utara atas dukungan fasilitasi sertifikasi halal bagi UMKM. Kolaborasi antara pemerintah pusat, daerah, perbankan, dan dunia usaha dinilai krusial untuk mendorong produk unggulan Sumut berdaya saing di pasar global.