MEDAN — Direktur Utama Perumda Tirtanadi Ardian Surbakti memimpin langsung penanaman 1.000 pohon itu bersama jajaran perusahaan. Lokasi yang dipilih bukan sembarang lahan: lima desa di dua kabupaten tersebut masuk kawasan hutan dan daerah resapan yang memasok mata air bagi jaringan air bersih warga Sumatera Utara.
Kegiatan bertajuk Gerakan Menanam 1.000 Pohon Tahun 2026 itu menyasar Desa Sibolangit dan Desa Rumah Sumbul di Deli Serdang, lalu Desa Ajijulu, Desa Sugihen, dan Desa Merdeka di Karo. Selain jajaran Tirtanadi, aparat desa di tiap lokasi ikut turun ke lapangan.
Mengapa Kawasan Resapan Air Jadi Prioritas
Daerah resapan berfungsi menyerap air hujan ke dalam tanah, menjaga kelembapan lingkungan, dan menopang keberlangsungan mata air. Tanpa tutupan pohon yang memadai, air hujan lebih banyak mengalir ke permukaan daripada meresap ke akuifer.
Perumda Tirtanadi menilai pelestarian kawasan tersebut harus berjalan terus-menerus, bukan sekadar program tahunan. Ketersediaan air bersih untuk pelanggan bergantung pada kondisi hulu, termasuk hutan di Deli Serdang dan Karo.
Peran Pemerintah Desa dan Warga
Keterlibatan kepala desa dan perangkat desa di tiap lokasi penanaman disebut sebagai kunci agar pohon yang ditanam tidak sekadar jadi simbol. Pemerintah desa diharapkan mendorong warga merawat tanaman yang sudah masuk tanah.
Dengan begitu, gerakan penghijauan ini diharapkan memberi dampak nyata bagi kelestarian lingkungan, bukan berhenti jadi kegiatan seremonial. Perawatan jangka panjang menjadi penentu apakah 1.000 bibit itu tumbuh menjadi tutupan pohon yang benar-benar menjaga resapan.
Manfaat Jangka Panjang bagi Pelanggan Tirtanadi
Perumda Tirtanadi menegaskan pentingnya menjaga kawasan hutan dan resapan air sebagai bagian dari upaya mendukung keberlanjutan penyediaan air bersih bagi masyarakat Sumatera Utara. Penanaman di lima desa itu jadi langkah awal menjaga ekosistem di sekitar sumber mata air.