MEDAN — Brigjen Pol. Sonny Irawan resmi mengisi kursi Kapolda Sumatera Utara yang sebelumnya dipegang Irjen Pol. Whisnu Hermawan Februanto. Pergantian itu merupakan bagian dari mutasi besar di tubuh Polri yang diputuskan Kapolri Suyudi Ario Seto. Sonny bukan nama asing bagi wilayah ini.
Sebelumnya, ia bertugas sebagai Wakapolda Sumut. Setelah itu, ia mendapat penugasan sebagai Kasespimmen Sespim Lemdiklat Polri. Kini ia kembali ke Medan dengan tanggung jawab yang lebih luas dibandingkan saat pertama kali bertugas di sana.
Sumut dan Beban Persoalan yang Tidak Ringan
Polisi di Sumatera Utara berhadapan langsung dengan sejumlah persoalan yang tidak sedikit. Mulai dari peredaran narkoba, premanisme, perjudian, tawuran, hingga konflik tanah dan kekerasan. Persoalan klasik soal keadilan bagi rakyat kecil ketika berhadapan dengan pihak yang punya uang dan kekuasaan juga masih membayangi.
Karena itu, pergantian Kapolda dinilai tidak cukup berhenti pada acara serah terima jabatan. Masyarakat menunggu apa yang benar-benar ikut berubah setelah kepemimpinan baru masuk.
Modal Sonny: Sudah Mengenal Medan dari Dalam
Sonny sudah pernah melihat Sumut dari dalam. Ia tahu karakter masyarakatnya, memahami denyut kota Medan, dan mengenal persoalan keamanan daerah ini. Modal itu membuat tantangannya bukan lagi soal mengenal medan, melainkan keberanian mengambil tindakan.
Di jalan raya, warga ingin aman. Di kampung-kampung, orang tua ingin anak-anaknya jauh dari narkoba. Pedagang kecil ingin tokonya aman. Pemilik rumah ingin hartanya tidak digasak maling. Ketika membuat laporan, masyarakat ingin dilayani tanpa merasa sedang meminta belas kasihan.
Harapan-harapan itu sederhana. Tetapi justru yang sederhana sering menjadi perkara di lapangan.
Kerja Nyata, Bukan Sekadar Membangun Citra
Sonny tidak perlu terlalu sibuk membangun citra. Kalau narkoba diberantas, masyarakat akan tahu. Kalau premanisme ditindak, masyarakat akan tahu. Kalau perjudian ditertibkan tanpa tebang pilih, masyarakat juga akan tahu. Begitu pula sebaliknya.
Kalau hukum hanya tajam kepada orang kecil, kepercayaan publik tidak akan datang hanya karena ada pejabat baru. Mengganti Kapolda mudah. Mengembalikan kepercayaan jauh lebih sulit.
Perubahan Jakarta Harus Terasa Sampai ke Daerah
Sonny datang sebagai bagian dari perubahan di tubuh Polri. Tetapi perubahan di Jakarta baru berarti kalau terasa sampai ke daerah. Masyarakat Sumut tidak terlalu membutuhkan pidato tentang reformasi. Mereka membutuhkan pelayanan yang cepat.
Laporan yang diproses. Narkoba yang benar-benar diberantas. Premanisme yang tidak dibiarkan. Dan hukum yang tidak membedakan orang berdasarkan isi dompet.
Jawaban Tidak Ada di Jakarta
Pertanyaan kepada Sonny sebenarnya sederhana. Bukan siapa yang akan ia ganti, bukan siapa yang akan ia pertahankan. Tetapi apakah masyarakat Sumatera Utara akan merasa lebih aman dan lebih adil setelah ia memimpin.
Jawabannya tidak perlu dicari di Jakarta. Jawabannya ada di Medan, Deli Serdang, Langkat, Serdang Bedagai, Tobasa, Tapsel, dan seluruh wilayah Sumatera Utara. Masyarakat mungkin tidak hafal nama semua jenderal, tetapi mereka tidak pernah lupa bagaimana diperlakukan ketika berhadapan dengan hukum.
Tulisan ini sudah terbit di edisi cetak Koran Mimbar Umum dan platform digital e-paper https://www.myedisi.com/mimbarumum