SUMATERA UTARA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah 0,84% ke 5.324,49 pada pukul 09.05 WIB, setelah dibuka di 5.310,84 dan sempat menyentuh 5.326,96. Tekanan jual yang datang selepas pembukaan menyeret indeks ke level terendah 5.232,26. Pelemahan pagi ini memperpanjang tren buruk IHSG yang sudah turun 17,87% dalam sebulan terakhir.
Bursa saham domestik kembali bergerak di zona merah pada perdagangan Kamis (21/10/2026). Data RTI menunjukkan IHSG kehilangan 44,39 poin dari posisi pembukaan, dengan 298 saham melemah berbanding 255 saham yang masih menguat dan 170 saham stagnan.
Nilai transaksi pagi ini tercatat Rp 2.154 triliun dengan volume 5.310 miliar saham dan frekuensi 186.144 kali. Angka itu menandakan aktivitas jual cukup deras meski belum separuh sesi berjalan.
Setelah dibuka di 5.310,84 pukul 09.00 WIB, indeks sempat menguat ke 5.326,96. Namun dorongan beli tidak bertahan lama. Dalam lima menit, IHSG berbalik arah ke 5.324,49 dan terus tertekan hingga menyentuh 5.232,26.
Rentang pergerakan pagi ini mencapai hampir 95 poin, mencerminkan volatilitas yang tinggi di awal sesi. Pembukaan yang sempat hijau tidak cukup menahan gelombang aksi jual.
Tekanan pagi ini bukan kejadian tunggal. Sepanjang sebulan terakhir, IHSG sudah melemah 17,87%. Sepanjang 2026, indeks saham terkoreksi hingga 39,45% — salah satu periode terburuk dalam beberapa tahun terakhir.
Artinya, investor yang memegang portofolio indeks sejak awal tahun telah kehilangan hampir dua perlima nilainya. Bagi pelaku pasar, pertanyaannya kini bukan lagi soal kapan rebound, melainkan seberapa dalam koreksi akan berlanjut.
Komposisi 298 saham melemah versus 255 saham menguat menunjukkan tekanan jual tidak terpusat di satu sektor. Sebagian besar konstituen indeks ikut terseret, sementara saham yang masih bertahan di zona hijau mencatat kenaikan terbatas.
Rasio saham turun terhadap saham naik mendekati 1,2 banding 1. Angka ini lebih ringan dibanding koreksi indeks, mengindikasikan pelemahan justru didorong saham-saham berkapitalisasi besar yang bobotnya dominan.
Bagi investor jangka pendek, level 5.232,26 menjadi titik acuan terdekat. Jika level itu jebol, ruang koreksi berikutnya terbuka lebih lebar. Sebaliknya, kemampuan indeks bertahan di atas 5.300 bisa jadi sinyal awal stabilisasi.
Pelaku pasar disarankan mencermati arus dana asing dan pergerakan nilai tukar rupiah pada sesi siang. Kedua faktor itu kerap menjadi pemicu utama tekanan di pasar saham domestik belakangan ini.
Bagi investor jangka panjang, koreksi 39,45% sepanjang tahun membuat valuasi sejumlah saham besar berada di level murah secara historis. Namun murah belum tentu berarti aman selama sentimen pasar masih negatif.