Menelusuri Kekayaan Gastronomi Sumatera Utara: Ragam Hidangan yang Melampaui Bika Ambon

Penulis: Redaksi  •  Rabu, 12 Agustus 2026 | 14:27:17 WIB
Menelusuri Kekayaan Gastronomi Sumatera Utara: Ragam Hidangan yang Melampaui Bika Ambon

Keberagaman etnis dan bentang alam Sumatera Utara telah melahirkan lanskap kuliner yang jauh lebih kaya daripada sekadar kue berongga yang melekat sebagai ikon oleh-oleh Medan. Wilayah ini, yang membentang dari perkotaan Medan hingga pedalaman Batak Toba, Tapanuli, Asahan, Karo, dan sekitar Danau Toba, menyimpan tradisi makanan yang berakar kuat pada kearifan lokal. Salah satu penanda khas yang membedakan masakan daerah ini dari kuliner Nusantara lainnya adalah andaliman—rempah dengan sensasi pedas dan getir yang menjadi jiwa dari banyak hidangan Batak. Badan Pemeriksa Keuangan Perwakilan Sumatera Utara bahkan turut mendokumentasikan andaliman, olahan ikan, daging, seafood, dan beragam jajanan sebagai identitas gastronomi daerah tersebut. Dengan demikian, menjelajahi kuliner khas Sumatera Utara selain bika ambon adalah sebuah undangan untuk menyelami cerita tentang sejarah, lingkungan, dan kebiasaan masyarakat yang hidup di tanah ini.

Bika Ambon memang telah lama menjadi primadona oleh-oleh dari Medan. Kue dengan tekstur berpori dan aroma fermentasi yang khas ini hampir selalu hadir dalam daftar belanja setiap wisatawan yang berkunjung. Namun, kekayaan gastronomi Sumatera Utara sesungguhnya melampaui itu. Dari hidangan berbahan dasar beras ketan, ikan, daging, sayuran, hingga makanan yang berkaitan erat dengan upacara adat, setiap sajian menawarkan pengalaman rasa yang unik. Satu hal yang perlu digarisbawahi adalah bahwa wisata kuliner di sini tidak hanya sekadar memuaskan lidah, tetapi juga menjadi jendela untuk memahami cara hidup masyarakat setempat. Berikut ini beberapa hidangan yang layak masuk dalam daftar perjalanan kuliner Anda.

1. Lemang

Lemang adalah makanan yang mengandalkan kesabaran dan ketelatenan. Beras ketan yang telah dicampur santan dimasukkan ke dalam batang bambu yang dilapisi daun pisang, lalu dipanggang di dekat bara api hingga matang sempurna. Proses ini menghasilkan aroma bakar yang khas serta tekstur yang pulen dan gurih. Di Sumatera Utara, Tebing Tinggi dikenal sebagai daerah yang sangat lekat dengan tradisi memasak lemang. Sajian ini biasanya dinikmati dengan selai atau srikaya untuk rasa manis, namun juga nikmat jika dipasangkan dengan lauk yang gurih.

2. Anyang Pakis

Dari Asahan datang anyang pakis, hidangan yang membuktikan bahwa bahan sederhana bisa diolah menjadi sajian yang kaya rasa. Tanaman pakis yang telah direbus dicampur dengan kelapa sangrai dan bumbu rempah seperti bawang merah, serai, daun jeruk, dan ketumbar. Meski sekilas tampak seperti urap, penggunaan kelapa sangrai memberikan aroma gurih dan tekstur yang lebih kompleks. Hidangan ini juga mencerminkan hubungan erat antara kuliner dan ketersediaan bahan pangan lokal di lingkungan sekitar.

3. Ikan Arsik

Ikan arsik adalah representasi sejati dari budaya Batak. Hidangan ini biasanya menggunakan ikan mas yang dimasak dengan bumbu yang sangat kaya, termasuk andaliman dan asam cikala atau kecombrang. Cita rasanya bukan sekadar pedas; ada perpaduan gurih, asam, aromatik, dan sensasi getir yang khas. Teknik memasaknya memakan waktu cukup lama agar bumbu meresap ke dalam daging ikan. Penelitian tentang arsik ikan mas sebagai makanan upacara adat Batak Toba menunjukkan betapa pentingnya posisi hidangan ini dalam tradisi kuliner masyarakat, dan Indonesian Chef Association mencatat andaliman, asam cikala, lengkuas, serta serai sebagai karakter penting dalam pengolahannya.

4. Naniura

Naniura adalah kuliner unik dari Batak Toba yang ikan diolah tanpa pemanasan. Ikan mas segar diberi bumbu asam dan rempah, seperti andaliman dan asam cikala, yang mengubah tekstur dan rasanya secara alami. Sering disebut mirip dengan sashimi, naniura sebenarnya memiliki teknik dan latar budaya yang sangat berbeda. Dulu, hidangan ini dikaitkan dengan kalangan bangsawan, namun kini bisa dengan mudah ditemukan di rumah makan yang menyajikan kuliner Batak.

5. Manuk Napinadar

Manuk napinadar adalah olahan ayam kampung yang kaya rempah dan memiliki kaitan kuat dengan tradisi Batak. Ayam dipanggang atau dimasak lalu disajikan dengan bumbu yang terdiri dari andaliman, cabai, bawang merah, bawang putih, kemiri, jahe, kencur, dan bahan asam. Hidangan ini tidak sekadar makanan sehari-hari; ia sering hadir dalam acara adat atau peristiwa penting dalam kehidupan masyarakat Batak, sebagaimana dicatat oleh Indonesian Chef Association.

6. Saksang

Saksang merupakan hidangan yang sangat erat dengan kuliner Batak. Ada berbagai variasi saksang, beberapa menggunakan daging babi dan darah sebagai bumbu, sementara yang lain tidak. Karakter utamanya terletak pada perpaduan daging dengan andaliman, cabai, serai, bawang, kunyit, lengkuas, jahe, dan jeruk. Hidangan ini umumnya dinikmati dengan nasi dan dapat ditemukan di rumah makan Batak atau lapo. Karena komposisinya bervariasi, pengunjung dengan pantangan makanan atau ketentuan agama tertentu sebaiknya menanyakan bahan-bahannya terlebih dahulu.

7. Mi Gomak

Mi gomak adalah sajian populer dari kawasan Batak, dengan mi yang relatif tebal dan sering disajikan dengan kuah berbumbu kuat atau versi goreng. Cita rasanya semakin khas berkat sentuhan bumbu ala masakan Batak. Mi gomak juga dikenal sebagai bagian dari pengalaman kuliner di kawasan Danau Toba, bersama dengan arsik, manuk napinadar, dan ombus-ombus, menurut sumber resmi pariwisata setempat.

8. Dali Ni Horbo

Dali ni horbo adalah kuliner khas Batak yang terbuat dari susu kerbau. Susu dipanaskan hingga teksturnya berubah menjadi lebih padat. Makanan ini memiliki tekstur lembut dan rasa gurih yang berbeda dari olahan susu modern. Dali ni horbo biasanya disajikan sebagai pendamping nasi bersama hidangan khas Batak lainnya, menunjukkan pemanfaatan bahan pangan lokal dalam tradisi masyarakat sekitar Danau Toba.

9. Ombus-ombus

Bagi penyuka makanan manis, ombus-ombus adalah pilihan yang menarik. Kudapan tradisional dari Tapanuli ini terbuat dari tepung beras dan gula aren. Bentuknya sederhana, namun perpaduan rasa gula aren yang khas dan tekstur tepung beras memberikan sensasi tersendiri. Ombus-ombus juga sering dikaitkan dengan Danau Toba, melengkapi pilihan kuliner yang tidak hanya gurih dan berbumbu kuat.

10. Soto Medan

Selain kuliner Batak, Medan menawarkan ragam makanan perkotaan yang tidak kalah menggugah selera. Soto Medan memiliki kuah gurih dan kaya rempah, dengan isian yang bisa berupa ayam, daging, atau bahan lainnya sesuai selera. Bahkan, BPK Sumatera Utara mencatat adanya variasi soto udang sebagai bagian dari kuliner khas daerah ini. Ini menunjukkan bagaimana perkembangan kuliner Medan dipengaruhi oleh keberagaman masyarakat dan kebiasaan pangan yang dinamis di kota.

Kekayaan Rasa yang Berasal dari Beragam Tradisi

Salah satu hal yang paling menarik dari kuliner Sumatera Utara adalah keragaman karakter rasanya. Masakan Batak banyak menggunakan andaliman, asam cikala, dan rempah aromatik, sementara makanan dari pesisir dan perkotaan lebih mengandalkan ikan, seafood, santan, dan teknik memasak yang bervariasi. Keragaman ini membuat perjalanan kuliner di Sumatera Utara tidak bisa berhenti pada satu jenis makanan saja. Setiap hidangan bisa memperkenalkan teknik memasak yang berbeda, sementara hidangan lain mengungkapkan hubungan makanan dengan adat dan kehidupan sosial. Kuliner di sini benar-benar menjadi bagian dari identitas kawasan. Arsik dan manuk napinadar, misalnya, tidak hanya dinilai dari rasanya, tetapi juga dari kaitannya dengan tradisi Batak. Penelitian tentang kuliner Batak Toba mencatat arsik, naniura, manuk napinadar, saksang, mi gomak, lappet, dan beberapa makanan lain sebagai kekayaan gastronomi yang tak ternilai.

Tips Menjelajahi Kuliner Sumatera Utara

Untuk memaksimalkan pengalaman berburu makanan tradisional, sebaiknya sesuaikan pencarian kuliner dengan daerah asalnya. Jika ingin menikmati masakan Batak Toba, kawasan Danau Toba adalah pilihan yang tepat. Sementara itu, Medan menawarkan pilihan yang lebih beragam karena menjadi pusat kuliner dengan latar masyarakat majemuk. Sebelum memesan, perhatikan komposisi makanan. Beberapa hidangan tradisional mungkin menggunakan bahan yang tidak sesuai dengan preferensi atau ketentuan konsumsi tertentu. Menanyakan bahan kepada penjual adalah langkah sederhana yang sangat membantu. Selain itu, memilih warung atau rumah makan yang ramai oleh warga setempat sering kali menjadi cara terbaik untuk menemukan hidangan yang masih mempertahankan cita rasa otentik. Pengalaman mencicipi makanan akan jauh lebih bermakna jika disertai dengan pengetahuan tentang asal-usul dan konteks budaya di baliknya. Pada akhirnya, menjelajahi kuliner daerah bukan hanya tentang mencari makanan lezat, tetapi juga tentang menggali cerita mengenai lingkungan, sejarah, tradisi, dan masyarakat yang terus menjaganya. Sumatera Utara menawarkan perjalanan rasa yang panjang, dari makanan berbahan ketan hingga ikan kaya rempah, dari kudapan manis hingga hidangan adat. Bagi para pecinta kuliner, menjelajahi kuliner khas Sumatera Utara selain bika ambon adalah agenda yang layak untuk mengenal lebih dalam kekayaan rasa dan budaya yang dimiliki provinsi ini.

Reporter: Redaksi
Back to top