Sawah 0,5 Hektare di Tapanuli Selatan Rusak Diterjang Banjir Bandang, Yanti Kehilangan Rp 24,5 Juta per Musim Panen

Penulis: Khairunas Ibrahim  •  Rabu, 12 Agustus 2026 | 14:25:01 WIB
Yanti memperlihatkan sisa lahannya yang tertutup material lumpur dan pasir akibat banjir bandang di Tapanuli Selatan, Jumat (27/12/2025).

TAPANULI SELATAN — Kehilangan itu terasa nyata bagi Yanti. Sebelum bencana, ia bisa memanen sekitar 3,5 ton gabah kering dari lahannya yang seluas 0,5 hektare, dua kali dalam setahun. Dengan harga gabah di kisaran Rp 7.000 per kilogram, pendapatan keluarga mencapai Rp 24,5 juta setiap musim panen.

Kini, angka itu tinggal kenangan. "Setelah banjir, sawah kami tinggal sedikit. Banyak yang tertutup pasir dan lumpur sehingga tidak bisa lagi ditanami seperti dulu," ujar Yanti kepada ANTARA, Jumat (27/12/2025).

Dilema Pendidikan Lima Anak di Tengah Lahan Kritis

Sisa lahan yang masih produktif seluas 0,1 hektare tidak lagi cukup untuk menjadi penopang ekonomi keluarga. Hasil panen yang diperoleh kini lebih banyak dihabiskan untuk memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari, bukan untuk dijual.

Kondisi ini memukul harapan Yanti dan suaminya untuk menyekolahkan kelima anaknya yang masih duduk di bangku SD, SMP, hingga SMA. Biaya pendidikan yang tadinya tertutupi dari hasil panen, kini menjadi beban yang semakin berat di tengah ketidakpastian produktivitas sawah.

Untuk sekadar bertahan, Yanti mulai membuka lahan alternatif. Ia menanam palawija dan tanaman hortikultura sebagai sumber penghasilan baru, sembari menunggu lahannya pulih.

Petani Lain Senasib: Timpangnya Pemulihan Lahan Pascabencana

Kisah Yanti bukan kasus tunggal. Koordinator Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Batu Godang Sayur Matinggi, Takdir Ali Syabana, menyebut kondisi serupa dialami banyak petani di wilayah kerjanya, termasuk di Desa Tolang Jae, Tolang Julu, dan Lumban Huayan.

"Masih banyak petani lain yang mengalami kondisi serupa," kata Takdir.

Menurutnya, areal persawahan di sejumlah desa tersebut masih tertutup material lumpur, pasir, dan bebatuan yang terbawa arus banjir bandang. Sebagian besar lahan belum bisa diusahakan kembali untuk tanaman padi dalam waktu dekat.

Harapan Petani: Pembersihan Sedimentasi Jadi Kunci Kebangkitan

Yanti berharap pemerintah daerah memberikan perhatian serius pada pemulihan lahan pertanian pascabencana. Ia menilai, upaya pembersihan sedimentasi yang menutup areal persawahan menjadi langkah paling mendesak yang harus dilakukan.

Tanpa adanya intervensi tersebut, para petani akan semakin sulit mengembalikan produktivitas pertanian mereka. Pemulihan lahan bukan sekadar soal mengembalikan fungsi sawah, tetapi juga memulihkan sumber penghidupan keluarga yang selama ini bergantung penuh pada sektor pertanian.

Reporter: Khairunas Ibrahim
Sumber: sumut.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top